PADANG, Detiksumbar.com — RSUD dr. Rasidin Padang terus berinovasi dalam mewujudkan fasilitas pelayanan kesehatan yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan. Terbaru, rumah sakit milik Pemerintah Kota Padang ini mengembangkan program pengolahan sampah organik berbasis budidaya maggot (Black Soldier Fly/BSF) guna menekan volume limbah sisa makanan.
Program ini mengandalkan kemampuan luar biasa larva lalat tentara hitam dalam mengurai bahan-bahan organik, seperti sisa makanan pasien, sisa olahan dapur, sayuran, hingga buah-buahan. Melalui pendekatan ini, sampah yang semula dianggap beban lingkungan kini disulap menjadi produk bernilai guna dan berdaya guna secara ekonomi.
Langkah ini sekaligus menjadi manifestasi penerapan prinsip ekonomi sirkular (circular economy) di lingkungan RSUD dr. Rasidin Padang. Bahan-bahan sisa tidak lagi berakhir begitu saja di tempat pemrosesan akhir (TPA), melainkan diputar kembali menjadi rantai nilai baru yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
Proses pengolahannya dirancang secara sistematis dan terukur. Diawali dengan pemilahan ketat sisa makanan dari dapur rumah sakit, material organik tersebut kemudian ditempatkan pada wadah biokonversi khusus agar maggot dapat menguraikannya secara optimal.
Hanya dalam waktu pemeliharaan sekitar 12 hingga 14 hari, maggot sudah siap dipanen. Larva kaya protein ini sangat potensial dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan, sementara sisa media pengolahannya—yang dikenal sebagai bekas maggot (kasgot)—dapat diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik berkualitas tinggi untuk menyuburkan tanaman.
Tak sekadar mengolah limbah, penerapan teknologi biokonversi maggot ini juga terbukti efektif menekan timbulnya aroma tak sedap di area penampungan sampah sementara. Proses penguraian oleh larva BSF terbilang sangat cepat sehingga meminimalisasi risiko berkembangnya lalat hijau maupun mikroorganisme patogen yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan higienitas lingkungan rumah sakit.
Inisiatif ini sejalan dengan spirit Green Hospital yang kini tengah gencar digaungkan di sektor kesehatan. Dengan pengelolaan sampah organik yang terintegrasi di dalam area internal, RSUD dr. Rasidin Padang tidak hanya berperan sebagai tempat penyembuhan pasien, tetapi juga menjadi role model fasilitas publik yang berwawasan lingkungan dan edukatif bagi masyarakat sekitar.
Direktur RSUD dr. Rasidin Padang, dr. Lismawati, Sp.PA, M.Biomed, M.M, MKM, menegaskan komitmennya dalam mengawal arah kebijakan rumah sakit berwawasan lingkungan ini. Di bawah kepemimpinannya, program pengolahan sampah organik berbasis maggot diharapkan mampu menjadikan RSUD dr. Rasidin Padang sebagai institusi kesehatan yang semakin tertata, asri, dan peduli pada keberlanjutan.
Kendati demikian, pihak rumah sakit menegaskan bahwa pemilahan limbah tetap dilakukan secara sangat ketat. Mengingat karakteristik rumah sakit yang menghasilkan pelbagai jenis limbah medis dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), prosedur penanganan dipastikan berjalan sesuai standar operasional yang baku. Hanya sampah organik non-medis yang terverifikasi aman yang dialokasikan sebagai pakan maggot.
Melalui langkah nyata ini, RSUD dr. Rasidin Padang memperkuat perannya dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alam Kota Padang. Langkah ini sekaligus menginspirasi bahwa pengelolaan sampah yang efektif membutuhkan komitmen seluruh pihak, mulai dari jajaran manajemen, petugas kebersihan, hingga partisipasi aktif pengunjung.
Sampah bukanlah akhir dari sebuah proses pemanfaatan, melainkan titik awal bagi lahirnya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan bernilai ekonomis. (Xx)




