oleh

DPRD Sumbar Pertanyakan Hasil Pansel Calon Direksi Bank Nagari

Padang – Ketua DPRD Sumatera Barat Supardi kembali mempertanyakan hasil dari tim Pansel Calon Direksi Bank Nagari yang ia nilai tidak sejalan dengan Konversi Bank Nagari menuju Bank Syariah sepenuhnya.

Menurut Supardi, seharusnya Direksi Bank Nagari kedepan diantaranya, diisi oleh orang yang paham dan mengerti tentang Perbankan Syariah, serta berkompeten.

Namun, hal ini tidak terlihat, kata Supardi dalam hasil penjaringan yang dilakukan tim Pansel tersebut. Dengan demikian, pihaknya pun melayangkan surat kepada Gubernur Sumbar dengan nomor SR-1/PB.41/2020 perihal Seleksi Direksi BPD Sumbar tersebut.

Ditambahkan Supardi, dalam surat itu, pihaknya meminta agar Gubernur Sumbar dengan benar-benar melaksanakan aturan yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 54 tahun 2017 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2018, sebelum para calon tersebut diajukan untuk mengikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Artinya apa, kita minta gubernur memastikan kalau Direksi Bank Nagari benar-benar sudah sesuai dengan aturan dan bukan kongkalingkong. Makanya DPRD Sumbar terus mengawal agar jangan sampai keluar dari rel tadi,” tegas Supardi Padang, beberapa waktu lalu.

Supardi berpesan, jangan ada unsur penempatan Direksi berdasarkan Like (suka) dan Dislike (tidak suka).

“Jangan nanti direksi yang ditempatkan tak ada satupun yang mengerti dan paham apa itu syariah. Kalau itu yang terjadi, bubarkan saja bank itu atau kembali saja jadi bank konvensional seperti semula. Untuk apa gaya-gayaan,” kata Supardi.

Karena, menurutnya, saat ini Bank Nagari akan konversi ke Bank Syariah, mau tidak mau pun orang yang akan menahkodai jalannya bank pun harus paham, dan mengerti dengan yang namanya Perbankan Syariah.

Jangan Main-Main dengan Konversi Syariah

Menurut Supardi, konversi Bank Nagari dari konvensional ke Syariah tentu saja akan menjadikannya makin sempurna mewakili identitas dan jati diri perbankan Minangkabau dengan filosofi adat basandi syara’ dan syarak basandi khitabullah.

“Menjadikan Bank Nagari sebagai bank syariah tak bisa main-main, karena itu jelas merupakan langkah maju untuk menjauhkan umat Islam dari jeratan riba. Jadi, harus profesional mengelolanya jika tak ingin bank ini cepat kolaps,” imbuhnya.

Sebab lanjutnya, konversi ke syariah bagai sebuah penegasan, bahwa ke depan segala praktek perbankan Bank Nagari akan berkesesuaian dengan prinsip dan ketentuan dasar syariat Islam. Setiap pekerjaan yang dilandasi syariat, tentu layak disebut bernilai ibadah.

“Bayangkan, jika para direksinya tak ada yang paham dan mengerti dengan syariah. Kira-kira bagaimana jadinya bank ini,” tambahnya.

Menurutnya, tentu saja tidak hanya direksi yang harus paham syariah, akan tetapi juga termasuk komisaris dan seluruh karyawan/ti yang akan mengoperasional bank ini kelak, harus paham dengan apa itu syariah.

Konversi Bank Nagari ke Perbankan Syariah diproyeksikan tahun depan sudah mulai operasional.

Saat ini Bank Nagari tengah giat-giatnya mensosialisasikan hal ihwal yang menyangkut syariah kepada semua pihak yang bertalian dengan Bank Nagari.

Komentar

BERITA LAINNYA